Initial Ss…

Sekedar Ingin Berbagi….

Masa Depan dan Masa Lalu Rakyat Demokrasi

Semenjak dahulu rakyat Indonesia sangat mendambakan adanya kebebasan dan kemerdekaan. Hanya saja hal seperti itu sudah seperti angan-angan saja. Kemerdekaan Indonesia dari penajajah yang sudah berabad-abad menjarah negeri ini namun rupanya tidak memberi pengaruh yang cukup bagi mereka. Indonesia memang merdeka atas penjajah namun tidak cukup merdeka untuk kehidupan mereka. Bagi sebagian orang kemerdekaan itu sudah diperoleh, namun sebagiannya lagi ternyata masih tetap menjadi pejuang kemerdekaan bagi diri mereka dan keluarganya. Parahnya lagi hal semacam ini justru mendapat perhatian khusus bagi mereka yang ingin mengambil peluang diatasnya. Minimnya ekonomi keluarga, dan pendidikan bagi mereka menjadi aset yang sangat berharga bagi para politikus negeri ini.

Lumrahanya dalam setiap mendekati pemilihan, banyak bermunculan para tokoh-tokoh yang awalnya belum pernah didengar oleh mereka. Kemudian diadakanlah pendekatan-pendekatan yang sangat baik dengan pembicaraan yang penuh senyum senyam dari bibir yang seperti diolesi madu yang terbaik. Rakyat tahu apa ?, saat diperlukan mereka didekati namun saat memerlukan merekalah para wakil rakyat yang tidak ada.

Kembali pada topik kita bahwa masa depan Rakyat Demokrasi Indonesia ini sebenarnya menunjukkan kerapuhan dan kesenjngangan yang luar biasa. Ditengah-tengah pergolakan ekonomi yang terjadi di masyarakat, masyarakat justru mendapat pukulan yang berat. Tidak dapat dipungkiri bahwa meski kondisi ekonomi negara kita kian maju, namun itu hanyalah dirasakan bagi mereka yang tidak berada dibawah garis kemiskinan. Dengan segala upaya yang sudah dilakukan pemerintah nyatanya tidak memberi arti yang signifikan. Sebaliknya konfrontasi politik yang terjadi kian marak di dalam gedung rakyat besar kita (red:Anggota DPR). Sering terdengar diberbagai media bahwa ternyata uang rakyat yang dikumpulkan selama ini sama sekali bukan untuk rakyat semata. Melainkan dijarah oleh tikus-tikus berdasi yang berpenampilan bagus itu. Seperti fenomena gunung es, banyak sudah kasus-kasus yang terungkap namun kita tidak pernah tahu sisa lainnya yang belum terungkap.

Masa lalu negara ini rupanya tidak memberi pencerahan buat pemerintah. Disini kita akan berbicara sedikit tentang ekonomi negara kita. Hal ini karena ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan perpolitikan negara kita. Pada masa demokrasi terpimpin dulu negara kita sempat mengalami defisit sampai 7,5 miliar rupiah. Berbagai cara sudah dilakukan oleh pemerintah mengatasi permasalahan-permasalahan yang menimpa negara pada masa itu. Namun usaha-usaha tersebut mengalami kegagalan karena penanganan ekonomi yang tidak rasional, lebih bersifat politis, dan tidak ada kontrol. Hal tersebut kurang labih sama dengan keadaan kita sekarang. DPR dengan kekuasaan legislasinya rupanya kehilangan akan fungsinya sebgai penyalur aspirasi rakyat. Dengan tanpa memperdulikan suara hatinya (red:rakyat), tetap memaksa meneruskan pembangunan gedung baru itu. Hal tersebut sudah menunjukkan bahwa DPR kita sudah tidak rasional, bersifat politis, tidak mau menerima kontrol dari rakyat, sama persis seperti masa demokrasi terpimpin tadi. Tanpa kontrol maka rakyat juga yang kelak menjadi korban.

Meski demikian kita tidak bisa lagi menyalahkan kondisi dahulu yang baru saja merdeka dan menghadapi banyak kendala tersebut. Sebaliknya dengan masa demokrasi yang seperti sekarang ini justru kondisi tersebut dapat terulang. Dengan kata lain ini seperti mendaur ulang masalah lama dalam cara-cara yang lebih modern. Kita begitu menghujat orde-orde terdahulu sementara kita tidak bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu. Bahkan kresibiltas dan loyalitas wakil rakyat pun menjadi pertanyaan bagi rakyat. Apakah Pemerintah kita masih bisa dipercaya ?. Begitu banyak kebaikan bahkan kebenaran keluar dari opini para wakil rakyat namun ternyata kebenaran dan kebaikan itu hanya bagi mereka saja. Sampai kapanpun kemerdekaan yang menjadi idaman seluruh lapisan rakyat akan tetap tenggelam didalamnya.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun, hanya saja alangkah baiknya bila kita masing-masing berkaca pada diri sendiri. Dosa seperti apakah yang telah dilakukan para pemimpin negara kita sehingga negeri ini selalu sering dilanda bencana. Tidak terkecuali dalam bidang apapun, Indonesia kini tengah menghadapai bencana yang bertubi-tubi. Kita tentu merindukan masa depan demokrasi yang lebih baik dari ini. Tentu saja pemerintah tidak bisa terus-menerus menyalahkan rakyatnya. Rusaknya moral, kepercayaan, dan nilai-nilai pancasila dalam diri rakyat Indonesia adalah bayangan cermin dari Pemimpin-pemimpinnya. Orang baik di negeri ini seperti menjadi duri dan tersu disingkirkan, sebaliknya jamur-jamur parasit yang terus menguras kekayaan rakyat dapat tumbuh subur tanpa diberi pupuk sekalipun. Putra-putra terbaik negeri ini bahkan terpaksa harus mengabdikan dirinya pada negara-negara lain yang lebih memperhatikan mereka. Tidak kurang negeri ini menciptakan putra-putri terbaik namun sekali lagi, segalanya uang yang berbicara di Negara Kesatuan ini. Rupanya nilai pancasila tersebut tidak logis jika hanya dihanya dikaitkan dengan dunia pelajar kita, pemerintah sendirilah yang sebenarnya kurang memahami arti pancasila dan nilai-nilainya.

Berdasarkan suara terbanyak kita bersedia mengakui orang-orang yang kita percayai untuk menjadi perpanjangan tangan rakyat. Semua berdasarkan kuantitas sedangkan tentu saja kualitasnya kita tidak pernah mengetahuinya. Semua wakil rakyat mengatakan bahwa ini adalah amanah, lambat laun opsi tersebut terganti dengan “Ini adalah hak saya dan saya berhak atas ini !”. Tidak jarang para wakil rakyat itu terkait kasus, baik asusila, narkotika, korupsi, dan lain-lain. Semua itu karena banyak hal di negeri ini yang ditentukan dengan kuantitas bukan dengan kualitas. Hasilnya adalah nasib rakyat tidak tertentukan dikarenakan suara yang terbanyak itu terlalu lebih memperhatikan nasib orang-orang terdepannya (red:wakil rakyat).

Dalam hal ini saya sedikit sependapat dengan keyakinan lama Orde baru, yaitu bahwa demokrasi perwakilan tidak cocok dengan dua tujuan yang lebih tinggi, persatuan nasional dan pembangunan ekonomi. Hal ini sedikit terbukti, dengan banyaknya kepentingan dari berbagai perwakilan cenderung meleset dari apa yang seharusnya. Suara rakyat tidak terdengar diruangan sidang besar mereka yang justru dirancang untuk bisa kedap suara dari luar. Dengan kata lain suara yang diperjuangkan hanyalah mencakup suara-suara berdasi, bukan suara perut-perut kekosongan rakyat yang menderita dan kesulitan bahkan untuk membuka mulut mereka sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/05/2011 by in Opiniku.
%d bloggers like this: