Initial Ss…

Sekedar Ingin Berbagi….

Ragam Bahasa Jurnalistik dalam Penulisan Berita

Bahasa Jurnalistik

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh semua orang dalam berkomunikasi dengan orang lainnya. Bahasa yang digunakan wartawan dalam dalam menulis karya jurnalistik dalam media massa disebut sebagai bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Pada dasarnya bahasa jurnalistik digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalislah yang bisa disebut sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.

Menurut Sudaryanto bahasa jurnalistik atau biasa disebut sebagai bahasa pers merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa indonesia disamping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, ragam bahasa literatur (sastra) (Suroso, 2001). Menurut Anwar, bahasa jurnalistik adalah suatu ragam bahasa yang memiliki sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, dan menarik dengan tidak menganggap remeh kaidah tata bahasa dan ejaan (Semi. 1994). Sedangkan menurut Wojowasito, bahasa juranlistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai mana tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah.

Bahasa jurnalistik memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan diberitakan. Hal ini karena dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik. Selain itu, karena keterbatasannya bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Sifat-sifat khas ini menurut Badudu (Suroso, 2001), yaitu :

  1. Singkat, yaitu harus menghindari penjelasan yang bertele-tele.
  2. Padat, yaitu bahasa yang singkat itu sudah mampu menyampaiakn informasi yang lengkap. Menerapkan prinsip 5W+1H, membuang kata-kata mubazir serta menerapkan ekonomi kata.
  3. Sederhana, yaitu bahsa jurnalistik sedapat mungkin memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, prakits, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis).
  4. Lugas, yaitu mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga.
  5. Menarik, yaitu menggunakan pilihan kata-kata yang hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus terpenuhi dalam bahasa jurnalistik mengingat hasil karya jurnalis tersebut dibaca oleh hampir semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pemahaman maupun pengetahuannya, dan juga karena tidak semua orang memiliki banyak waktu untuk membacanya. Dengan demikian bahasa jurnalistik harus dapat dipahami dalam ukuran intelek yang minimal dan juga mengutamakan kemampuan menyampaikan informasi kepada pembaca secara cepat dan komunikatif. Namun demikian bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia, seperti dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana. Hal ini karena bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya, yaitu sebagai barikut (Suroso, 2001) :

  1. Pemakaian kata-kata yang benar.
    Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang bisa dikuasai sesorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya. Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam bahasa Indonesia dihadapkan pada dua hal yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan dalam arti bahwa pilihan kata tersebut tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca, sedangkan kesesuaian dalam arti bahwa pilihan kata tersebut tidaklah merusak wacana.
  2. Penggunaan kalimat efektif
    Keefektifan ini sangat menunjang pada proses penyampaian dan penerimaan informasi. Karena itu kefektifan kalimat haruslah dapat membuat isi dan maksud yang disampaikan tergambar dalam pikiran si pembaca, persis dari apa yang dituliskan. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat yang benar, serta kalimat yang harus mempunyai tenaga yang menarik.
  3. Penggunaan alinea/pragraf yang kompak
    Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari beberapa gagasan penjelas. Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemhaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.

Penulisan Berita

Berdasarkan pengertian Wojowasito diatas kita memahami bahwa berita merupakan karya bidang jurnalistik. Sehingga apa yang ditulis dalam berita disini haruslah sejalan dengan bahasa jurnalistik yang kita bahas sebelumnya. Berita yang dimaksud disini adalah beberapa informasi atau sejumlah kabar-kabar dari situasi, kondisi, perbuatan, tindakan, maupun keadaan tertentu yang dianggap perlu untuk diketahui oleh khalayak ramai atau banyak orang. Berita yang disampiakn disini sudah pasti haruslah informasi yang benar adanya atau benar-benar terjadi, tanpa adanya tambahan informasi yang tidak benar apalagi sampai memicu kekacauan. Karena itu berita haruslah pula memperhatikan asas keamanannya.

Orang-orang yang bertugas mencari dan mengumpulkan informasi inilah yang disebut sebagai wartawan. Fokus wartawan dalam profesinya itu adalah berita, bagaimana cara menyajikannya kepada khalayak sehingga berita tersebut bertul-betul layak, enak dibaca serta keterpihakan pada proposional berita yang sesungguhnya. Semi (1995:11) mengemukakan bahwa berita adalah cerita atau laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang faktual, baru, dan luar biasa sifatnya. Menurut Semi (1995:25) ada beberapa ciri berita yang dipandang perlu untuk sebuah berita agar berkualitas dan menarik untuk dibaca antara lain :

  1. Kejadian itu merupakan sebuah fakta.
  2. Kejadian itu baru, luar biasa.
  3. Skandal atau persengkataan
  4. Memperhatikan selera konsumen.

Mapatoto (1994:35) menambahkan bahwa ada beberapa unsur yang menarik yang diinginkan oleh pembaca yaitu :

  1. kebaruan (time lenses),
  2. kedekatan (proximity),
  3. keanehan (unusualness),
  4. daya pikat manusiawi (human interest), dan
  5. konsekuensi.

Beberapa indikator yang perlu diperhatikan dalam menulis berita menurut Anwar (1984:12) adalah :

  1. gunakan kalimat-kalimat pendek.
  2. gunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang
  3. gunakan bahasa sederhana dan jernih penguatannya
  4. gunakan bahasa tanpa kalimat majemuk
  5. gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif
  6. gunakan bahasa padat dan kuat
  7. gunakan bahasa positif bukan bahasa negatif

Selain itu, dalam penulisan berita terdapat beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan diantaranya menurut Mustakim (1993:31) adalah :

  1. pemenggalan kata
  2. pemakaian huruf miring/tanda garis sambung
  3. penulisan berbagai kata
  4. penulisan kata ulang
  5. penulisan kata depan
  6. penulisan partikel
  7. penulisan singkatan dan akronim

Sumber referensi

  1. Anwar, Rosihan. 1991. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Pradnya Paramita. Jakarta
  2. Mappatoto, Andi Baso. 1994. Teknik Penulisan Feature. Gramedia. Jakarta
  3. Semi, Atar. 1995. Teknik Penulisan Berita, Feature, dan Artikel. Nusantara. Bandung
  4. Suroso. 2001. Bahasa Jurnalistik Sebagai Materi Pengajaran BIPA Tingkat Lanjut. Makalah Seminar Jurnalisme Multimedia. Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 07/10/2011 by in Umum.
%d bloggers like this: