Initial Ss…

Sekedar Ingin Berbagi….

Prangko

Prangko dan Pengertiannya

Prangko berasal dari bahasa latin “franco”, yang berarti tanda pembayaran untuk melunasi niaya pengirman surat. Dengan kata lain biaya pengiriman surat tidak dibebankan kepada penerima surat, tetapi harus dilunasi oleh pengirim surat dengan menggunakan prangko.

Surat menyurat dan sistem perposan sebenarnya sudah dikenal oleh manusia secara luas jauh sebelum kita mengenal prangko. Jalan Raya Anyer – Panarukan sepanjang 1000 km itu pun dibangun mula-mula sebagai prasaran hubungan pos di Pulau Jawa pada tahun 1809. Jalan raya itu dibangun selama kurun waktu 1 tahun atas prakarsa Gubernur Jenderal Daendels dan dikenal denagn nama “Jalan Pos Raya”

Prangko pada hakikatnya adalah secarik kertas bergambar yang diterbitkan oleh Pemerintah yang pada bagian belakang umumnya memuat perekat, sedangkan pada bagian depannnya memuat suatu harga tertentu, yang dimaksudkan untuk direkatkan pada kiriman pos. Dengan menempelkan prangko pada sepucuk surat berarti biaya pengiriman surat tersebut telah dilunasi oleh pengirim surat dan sebagai imbalannya Dinas Pos berkewajiban menyampaikan surat tersebut kepada alamat yang dituju pada surat tersebut.

Pada awalnya biaya pengiriman surat bisanya dilunasi oleh penerima surat. Sistem perlunasan seperti ini sangat merugikan Dinas Pos, karena banyak penerima surat tidak bersedia melunasi biaya pengiriman surat. Suatu ketika ada seorang gadis yang menerima surat dari pengantar surat. Sejenak setelah mengamati surat tersebut denagn teliti, gadis itu pun segera mengembalikan surat itu kepada pengantar pos dan menolak melunasi biaya pengiriman surat dengan alasan ia tidak puhya uang. Sir Roeland Hill yang melihat hal itu kemudian mendekatinya dan bertanya kenapa ia menolak menerima surat itu. Ternyata surat itu dari kekeasihnya, dan surat itu memuat tanda/kode yang hanya diketahui keduanya. Tanpa membuka surat tersebut gadis itu telah tahu apa maksudnya. Jadi untuk apa ia harus membayar ongkos kirimnya lagi. Dari sinilah Sir Rowland Hill mencari cara mengatasinya. Sehingga muncullah gagasan untuk menerbitkan prangko seperti sekarang.

Prangko Pertama

Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa Prangko merupakan hasil dari gagasan Sir Rowland Hill. Prangko pertama hasil gagasannya itu meruapalan prangko terbitan Inggris pada tanggal 6 Mei 1840. Prangko itu disebut sebagai “The Penny Black“. Prangko tersebut memiliki ciri sebagai berikut :

  1. Memuat gambar kepala Ratu Victoria,
  2. Dicetak dalam warna hitam,
  3. Memuat kata Postgae dibagian atas prangko,
  4. Memuat kata One Penny di bagian bawah.

Setelah Inggris menerbitkan prangko pertama pda tahun 1840 itu, beberapa negara kemudian mengikutinya antara lain Zurich, Geneve, Basel (ketignya di Swiss), Mauritius, Perancis, Bavaria, Amerika Serikat, dan Brazilia.

Pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu menguasai Indonesia, pada tanggal 1 April 1864 menerbitkan prangko pertama. Prangko itu berwarna merah anggur dengan harga nominal 10 cent dan menampilkan gambar Raja Willem III.

Pada mulanya prangko memuat gambar kepala negara (Raja dan Ratu), lambang negara atau angka yang menunjukkan harga nominal saja, namun kemudian memuat desain beraneka ragam.

Pembagian Macam-Macam Prangko

Menurut tujuan penerbitannya, prangko-prangko Indonesia dibedakan menjadi :

  1. Prangko Definitif atau Prangko BiasaYaitu prangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pemrangkoan sehari-hari dan tidak ada kaitannya dengan suatu kejadian atau persitiwa. Tergantung kepada kebutuhannya, prangko-prangko definitif ini terdiri dari beberapa pecahan harga mulai dari harga nominal rendah samapai harga nominal tinggi. Oplah cetak untuk tiap pecahan harga juga tidak sama, yang paling banyak digunakan dicetak lebih banyak dari pada yang jarang digunakan. Apabila persediaannya telah menipis, maka prangko definitif dicetak ulang sesuai dengan kebutuhan. Masa jual dan masa laku prangko jenis ini tidak terbatas, sampai ada instruksi penarikan dari peredaran oleh Pemerintah.Yang termasuk jenis prangko jenis ini adalah :
    • Prangko Seri Hewan
    • Prangko seri Alat Musik
    • Prangko seri Presiden Soekarno
    • Prangko seri Presiden Soeharto
    • Prangko seri PELITA (Pembangunan Lima Tahun)
  2. Prangko PeringatanYaitu prangko yang penerbitannya dikatikan dengan suatu kejadian atau persitiwa dan dimaksudkan untuk memperingati kejadian atau peristiwa, baik yang bersifat nasional mauapun internasionalYang termasuk jenis prangko jenis ini adalah :
    • 100 Tahun Prangko Indonesia
    • 10 Tahun Koonfrensi Asia Afrika
    • 100 Tahun Phalaoanthorpologi Indonesia
    • 25 Tahun Asean
    • 45 Tahun Kemerdekaan Indonesia
  3. Prangko IstimewaYaituPrangko yang tujuan penerbitannya dimaksudkan untuk menarik perhatian masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri mengenai kegiatan-kegiatan yang dilancarkan oleh Pemerintah dalam berbagai bidang, baik yang bersifat nasional maupun internasional.Yang termasuk jenis prangko jenis ini adalah :
    • Prangko Seri Praiwisata
    • Prangko Seri Flora
    • Prangko Seri fauna
    • Prangko Seri Kebudayaan
  4. Prangko AmalYaitu prangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk menghimpun dana bagi kepentingan amal dan dijual dengan harga tamabahan. Pendapatan dari hasil penjualan prangko ini setelah dikurangi dengan harga prangko, ongkos pembuatan, dan ongkos lainnya kemudian disumbangkan kepada suatu badan amal yyang telah ditetapkan oleh Pemerintah.Yang termasuk jenis prangko jenis ini adalah :
    • Prangko Hari Sosial III (1960)
    • Prangko Hari Sosial IV (1961)
    • Prangko Hari Sosial V (1961)
    • Prangko Hari Sosial VI (1963)

Prangko peringatan, prangko istimewa, dan prangko amal masa jualnya di kantor pos terbatas yaitu selama tahun penerbitan ditambah 2 tahun, sedangkan masa lakunya selama tahun penerbitan ditambahn lima tahun. Misalnya prangko seri “130 Thaun Prangko Indonesia” ynag diterbitkan pada tanggal 1 April 1994. Maka masa jualnya berakhir pada 31 Desember 1996, sedangkan masa lakunya berakhir pada 31 Desember 1999.

Selain prangko-prangko tersebut di atas masih ada prangko yang diterbitkan untuk tujuan khusus yaitu :

  1. Prangko Pos Kilat
  2. Prangko Pos Udara
  3. Prangko Dinas
  4. Prangko Espres
  5. Prangko Pos Udara Espres
  6. Prangko Pos Udara Dinas

Prangko-prangko tersebutmsudah tidak lagi berlaku dan tidak lagi dterbitkan.

Bantuk Prangko

Pada mulanya prangko-prangko diterbitkan dalam persegi panjang sesuai dengan bingkai potret saja (yang dijadikan gambar prangko) dari negara penerbitnya. Kemudian dipergunakan bentuk persegi panjang mendatar yang lebih serasi untuk prangko-prangko peringatan. Beberapa bentuk prangko diantaranya adalah :

  1. Bentuk Bujur Sangkar, pertama kali digunakan oleh Bavaria (1849)
  2. Bentuk Segitiga, pertama kali digunakan oleh Cape of Good Hope/Afrika Selatan (1853)
  3. Bentuk Segi Delapan, digunakana di Yunani (1898)
  4. dan lain-lain.

Prangko-prangko yang pernah digunakan di Indonesia diterbitkan dalam bentuk persegi panjang, persegi, dan segitiga sama sisi terbitan zaman Hindia Belanda.

Ukuran Prangko

Pada mulanya ukuran prangko dibuat sepraktis mungkin, tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Prangko-prangko pertama kebanyakan diterbitkan dalam ukuran 25 x 18 mm. Kemudian ukurannya makin membesar disesuaikan dengan kebutuhan penerbitan prangko-prangko peringatan dan lain-lainnya.

Prangko terkecil adalah prangko Mecklenburg Scwein (Jerman) yang diterbitkan pada tahun 1856 berukuran 9 x 9 mm, sedangkan prangko terbesar adalah prangko Amerika Serikat yang diterbitkan pada tahun 1865 berukuran 53 x 97 mm.

Umumnya prangko-prangko yang harga nominalnya tinggi diterbitkan lebih besar daripda yang harga nominalnya rendah seperti halnya dengan prangko-prangko terbitan Hindia Belanda, Inggris, dan Belanda.

Komposisi Prangko

Komposisi atau susunan prangko biasanya berjajar, satu dengan yang lainnya dipisahkan dengan perforasi, dan dalam satu lembar (Sheet) terdapat prangko dengan desain dan harga nominal yang sama. Namun kini telah ada pula prangko bergandengan, yaitu beberapa macam prangko dicetak menjadi satu sehingga membentuk suatu kesatuan prangko. Setiap prangko memuat harga nominal sendiri-sendiri dan antara prangko yang satu dengan lainnya diberi perforasi. Yang termasuk prangko bergandengan adalah :

  1. Se-tenant
    • Beberapa prangko yang dicetak bergandengan dan keseluruhannya membentuk sebuah gambar yang utuh. Contoh : Prangko Seri Borobudur 1868, Olimpiade Mexico 1968, Seni Lukis Tradisional 1981, Bangsa Peduli Lingkungan 2993.
    • Beberapa prangko yang masing-masing memuat gambar yang berlainan, tetapi dicetak bergandengan. Contoh : Prangko Seri Smphilex 1971, Sensus Ekonomi 1986, dan Cinta Puspa dan Satwa 1993.
  2. Tete-Becheyaitu dua keping prangko yang dicetak bergandengan, yang satu terletakterbalik terhadap lainnya. Jenis ini terbagi dua yaitu apabila letak dua prangko tersebut berdampingan, maka disebut tete-beche horizontal, dan apabila letak dua prangko tersebut yang satu berada dibawah yang lainnya, maka disebut tete-beche vertikal.
  3. Gutter-PairYaitu antara dua prangko terdapat satu bidang berbentuk prangko tanpa harga nominal dan tidak dapat digunakan untuk melunasi biaya penegeposan. Pada bidang tersebut biaasanya dimuat suatu pesan khusus, logo, atau desain lain yang menarik. Comtoh : Prangko seri 100 Tahun Museum Zoologicum Bogoriense, dengan harga nominal Rp. 1000,- tahun 1994.

Sumber referensi :
“Mengenal Dunia Filateli” edisi 1996 disusun oleh H. Soerjono, Bc.A.P.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/11/2011 by in Filateli.
%d bloggers like this: