Initial Ss…

Sekedar Ingin Berbagi….

Data Teknis Prangko

Data teknis prangko sangat penting bagi seorang filatelis. Hal ini karena data ini memberikan idewntitas pada prangko tertentu yang membedakannyy dari prangko lain sejenisnya dan juga turut menentukan nilai filatelisnya. Data ini biasanya tercantum pada setiap katalog atau buletin yang terdapat pada sampul hari pertama terbitan indonesia.

Data teknis ini terdiri atas :

  1. Teknik Pencetakan Prangko
    • Cetak Tinggi/typographyDisebut juga boekdruk. Cetak tinggi ini umumnya digunakan pada cetak tindih (overprint). Hal ini karena alat cetak tinggi memiliki spesifik khusus yaitu cetakannya yang timbul seperti yang terlihat pada bagian stempel-stempel secara umum.
    • Cetak Dalam/engravingDisebut juga diepdruk. Cetak ini berlawanan cetak tinggi, pada cetak dalam bagian yang menghasilkan gambar/tulisan lebih rendah daripada latar belakangnya. Pada waktu mencetak, segenap muka pelat tersebut diberi tinta dan kemudian permukaannya dibersihkan sehingga hanya bagian dalamnya saja yang diberi tinta. Kertasnya ditekan dengan keras sehingga menghasilkan cetakan yang gambar/tulisannya menonjol ke atas seperti cetakan “huruf timbul”. Kelebihan dari cara ini adalah gambarnya yang tajam dan kelihatan lebih hidup.Jeniis cetak dalam yang terkenal adalah INTALGIO dan ROTOGRAVURE, dan prangko Indonesia umumnya dicetak dengan proses ROTOGRAVURE, atau kombinasinya dengan OFFSET.
    • Cetak Rata/lithographyDisebut juga steendruk. Cetak ini berbeda dari kedua cetak di atas. Klise pada cetak rata tidak timbul atau pun tenggelam, melainkan rata. Namun teknik membubuhkan tinta dan mencetak dikerjakan sama seperti pada cetak dalam.Bahan utama cetak rata terbuat dari batu Solenhof (Jerman) yang bersifat menahan tinta pada gambar yang direkatkan padanya, tetapi tidak lebih dari yang dibutuhkan gambar. Cetak rata terbuat juga dari “agar-agar” (gelatine) atau bahan yang sejenis. Gambaran dengan tinta atau potolot yang tinta yang ditempelkan pada permukaannya dapat menghasiilkan cetakan berpuluh-puluh lembar yang cukup jelas.
    • Cetak Limpah/OffsetBerbeda dari ketiga cetak di atas, klise pada cetak limpah terbalik seperti bayngan pada cermin. Sebeluum dicetakkan pada kertas, gmabar terlebih dulu “dilimpahkan” pada rol karet dan rol inilah (yang gambarnya terbalik) kemudian dicetak pada kertas. Hasil offset memberi kesan “halus”. Bagi cetakan berwarna tampak sangat menarik.Dalam keadaan darurat ada prangko-prangko yang dicetak dengan klise terdiri dari huruf-guruf lepas (typeset) seperti halnya orang mecetak kartu nama. Kadang-kadang masih disertai klise gambar seperti pada British Guiana 1856, yaitu prangko yang termahal di dunia. Cetak tindih umunya mempergunakan typeset (RIS, RIAU, UNTEA).
  2. Cetakan yang MenyimpangKelebihan dari prangko-prangko yang cetakannya menyimpangharganya menjadi lebih tinggi. Hal ini karena lolosnya prangko-prangko yang cetakannya menyimpang di pasaran sangat jarang terjadi sehingga jumlahnya sedikit. Sebelumnya prangko-prangko tersebut yang dicetak akan melalui proses pemeriksaan sebanyak dua kali. Prangko-prangko yang menyimpang akan dipisahkan kemudian dimusnahkan. Oleh karena itu apabila masih ada yang lolos maka itu merupakan hal yang jarang terjadi dan inilah yang menyebabkan hargnya menjadi lebih tinggi.Yang termasuk dalam penyimpangan-penyimpangan itu adalah : ujung kertas terlipat sehingga prangko tercetak pada dua potong kertas atau sebagian klise tertutup oleh sesuatu sehingga menghasilkan noda putih dan sebagainya.
  3. KertasUmumnya prangko dicetak pada kertas putih, tetapi ada juga pada kertas berwarna dengan maksud tertentu. Biasanya untuk prangko yagn berharga tinggi. Namun karena kertas yang digunakan untuk mencetak prangko bermacam-macam variasinya sehingga menghasilkan perbedaan antara prangko yang satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan itu dihasilkan oleh perbedaan susunan kawat pada saringan yang menekan bubur kertas (pulp stuff) menjadi lembaran-lembaran. Karena variasinya itu tentu saja menjadi penentu nilai pokoknya sehingga hal itu menjadi bahan peneltitian para filatelis.Untuk menghindari pemalsuan dan penggunaan prangko yang sudah terpakai, maka dilakukan :
    • Kertas dilapisi dengan kapur; Prangko ini apabila direndam dalam air, warnanya akan larut sehingga untuk melepaskannya prangko tersebut cukup diapungkan sebentar saja di atas air. Contoh prangko ini adalah prangko-prangko Ned. Indie 1912 dan 1933.
    • Kertas dilapisi dengan laruan Nila; Prangko ini apabila tersenuth air akan timbul noda-noda biru yang menyeluruh. Contoh prangko ini adalah prangko-prangko Ned. Indie 1905.
    • Kertas Grill, yaitu kertas tidak berwarna ditusuk-tusuk secara lembut. Hal ini akan menyebabkan tinta cap tanggal akan meresap ke dalam kertas.
    • Kertas ribbed, yaitu kertas yang dibuat bergelombang sebelum dicetak.
    • Kertas ganda/double paper, yaitu kertas sangat tipis yang memuat cetakan dan kemudian ditempelkan pada kertas lain yang lebih tebal yang juga sudah ada cetakannya.
    • Kertas diberi “tanda air” (watermark).
  4. PerekatSejak semula prangko seenarnya sudah diberi perekat. Kecuali dalam keadaan darurat sajalah hal ini tidak dilakukan seperti pada prangko Seri Pemilu 1955. Perekat prangko haruslah cukup kuat sehingga prangko tetap menempel, tetapi tidak berlebihan sehingga saling melekat.Perekat yang digunakan juga bermacam-macam. Dahulu perekat yang digunakan adalah Perekat Arab gummi arabicum arabic gum, yaitu sejenis getah tanaman. Namun sekarang prangko banyak dipergunakan perekat synthesis, antara lain Polyphinilacetat.

    Karena adanya perekat ini sehingga untuk menghindari melekatnya prangko mint pada album, maka prangko-prangko tersebut telebih dahulu diolesi “bedak talcum” (talk murni bukan yang dipakai untuk kosmetik) sedikit pada begian belakang prangko. Jika terlalu banyak bedak bisa menjadi keras dan kertasnya bisa sobek.

  5. GambarAwalnya prangko-prangko hanya memuat gambar-gambar “Raja” serta “Lambang Negara”. Gambar-gambar ini dibuat sangat rapih dengan diberi bingkai. Kemudian cukup dengan memuat “Angka” saja dengan hiasan seperlunya.Sesudah itu prangko-prangko memuat gambar-gambar yang lebih menarik disesuaikan dengan maksud atau tujuan tertentu. Prangko-prangko modern juga sudah tidak jarang yang diberi bingkai, bahkan gambarnya dicetak memenuhi seluruh prangko sampai gigi-gigi prangko.
  6. Nama NegaraPrangko-prangko juga memuat nama negara, dengan tujuan agar dapat diketahui asal prangkonya. Tentu saja hal itu disesuaikan dengan bahsa negara bersangkutan, karena tidak semua juga memakai huruf latin. Karena itu dalam katalog dunia sudah terdapat daftar nama-nama tiap negara untuk memudahkan mengidentifikasinya.Adakalanya dalam satu negara dipergunakan 2 atau 3 bahasa. Nama negara disebutkan bersama-sama pada prangkonya. Adapula beberapa negara yang menggunakan prangko yang sama, dan nama-nama negaranya juga dicantumkan bersama.

    Nama-nama negara ada juga yang disingkat, misalnya DDR (Jerman Timur), RSA (Afrika Selatan), UAR (Mesir), US (Amerika Serikat), dan lain sebagainya.

  7. TeksDari teks inilah kita dapat mengetahui beberapa hal dari prangko. Teks dalam prangko memuat penjelasan beberapa hal seperti penjelasan gambar, tahun penerbitan, nominal prangko, dan bahkan nama negara.
  8. WarnaDahulu prangko-prangko dicetak hanya dalam 1 warna saja contohnya adalah prangko One Penny yang dicetak warna hitam dan prangko 2 pence dalam warna biru. Prangko-prangko dulu yang dicetak dalam 2 warna memerlukan proses pencetakkan 2x, karena itu hany dipergunakan untuk prangko dengan harga tinggi saja. Selain itu karena cetakan keduanya kadang kurang tepat sehingga banyak terdapat penyimpangan pencetakan.Namun sekarang prangko-prangko sudah dapat dicetak dengan banyak warna sekaligus terutama untuk seri-seri istimewa. Umumnya prangko definitif dicetak dalam satu atau dua warna, tetapi mulai tahun 1993 Indonesia mulai menggunakan 5 warna. Maksud semula mencetak prangko dalam warna warni adalah agar pegawai pos dengan cepat mengetahui apakah sebuah surat portonya cukup atau tidak tanpa membaca harganya.

    Prangko dicetak dalam beraneka ragam warna itu, warna-warna pokoknya adalah merah, kuning, biru, oranye, ungu, abu-abu, dan cokelat. Warna-warna itu banyak diberi nuansa (shade, gradasi) warna, dan masing-masing diberi nama seperti merah-darah, hijau-pupus, dsb. Untuk itu bagi filatelis perlu memiliki “kartu warna”. Selain itu, ada juga prangko yang warnanya menyimpang akan menjadi lebih mahal walau sedikit saja penyimpangannya. Yang perlu diingat bahwa Prangko dengan warna merah atau ungu banyak yang melunturi prangko lain bila dicuci bersama, karena itu berhati-hatilah.

  9. Tanda AirWatermark atau tanda air adalah gambar “tembus cahaya” yang tampak atau akan kelihatan bila kertasnya itu dibentangkan menghadap matahari/cahaya. Tujuan dari pemberian tanda air adalah untuk mencegah pemalsuan. Oleh karena prangko merupakan kertas berharga, maka beberapa negara kecuali Indonesia mencetak prangkonya pada kertas bertanda air. Ada tanda air untuk seluruh lembaran prangko, ada juga pada tiap prangkonya. Kelangkaan akan terjadi apabila tanda airnya terbalik atau dipergunakan kertas bertanda air untuk keperluan lain. Alat untuk mendeteksi tanda air disebut watermark-detector atau juga Quaartz Lampyang menggunakan lampu.Antara satu prangko dengan yang lainnya memiliki tanda air yang berlainan, misalnya prangko-prangko Inggris ada yang bertanda air “mahkota” yang bentuknya berlainan dan yang memakai huruf CC(Crown Colony) atau CA (Crown Agency). Bahkan ada juga prangko dengan jenis yang sama tetapi tidak mimiliki tanda air. Prangko-prangko Jepang benyak yang bertanda air garis-garis gelombang. Belanda bertanda air lingkaran-lingkaran kecil. Jerman bertanda air garis-garis silang, semuanya untuk seluruh lembaran. Ada juga yang menggunkan Lambang Negara sebagai tanda air.

    Prangko RI tidak bertanda air, kecuali seri roto 1950 yang dicetak tindih pada prangko Ned. Indie. Prangko ini bertanda air C of A (Commonwealth of Australia)dan dicetak di Australia. Sedangkan prangko-prangko jaman revolusi ada yang dicetak pada kertas yang bertanda air “Padalarang” atau “Made in U.S.A” (1949). Tapi tidak semua prangko dalam lembaran menunjukkan bagian tanda airnya.

  10. PerforasiSebelumnya prangko-prangko diterbitkan dalam keadaan tersambung secara utuh dan harus digunting telebih dahulu dari lembarannya bila hendak memisahkan prangkonya. Namun sekarang prangko sudah dibuatkan perforasi untuk memudahkannya. Perforasi merupakan baris lubang-lubang diantara deretan prangko dalam lembaran (vel) dengan maksud memudahkan dalam penyobekkan prangko. Perforasi ini yang apabila disobek akan menjadi setengah bagian yang disebut gigi-gigi prangko. Perforasi mulai dipergunakan pada prangko pertama kali oleh Archer di Inggris pada tahun 1864.Hal yang akan mempengaruhi harga prangkonya adalah adanya prangko dengan jenis yang sama tapi giginya berlainan. Selain itu juga berbeda harganya dengan prangko yang tanpa perforasi. Sebagai Contoh Seri Padi-Kapas umunya bergigi 121/2;yang bergigi 111/2 (10 sen) harganya 100x-nya;yang tanpa gigi (5 dan 10 sen) harganya 500x-nya

    Kadang prangko-prangko tanpa perforasi diterbitkan karena dalam keadaan darurat, misalnya Jaman Revolusi, atau Nederland keran pemogokan di percetakan tahun 1923. Perli diketahui adalah prangko tanpa-gigi sisi-sisinya cukup lebar sehingga tak meragukan, jadi bukan prangko yang dipotong perforasinya.

    Perforasi ada tiga macam :

    • Perforasi Baris (line peforation)Dalam hal ini letak jarum-jarumnya ada pada satu garis lurus sehingga dalam membuat perforasinya dilakukan sederet demi sederet. Kadang diperlukan dua buah mesin untuk mengejakannya karena adanya perbedaan ukurannya.Untuk lembaran yang berisi 10 x 12 buah, diperlukan tekanan 11 + 13 kali = 24 kali. Pada perforasi baris, gigi-ujung prangko bentuknya tidak menentu.
    • Perforasi Sisir (comb perforation)Dalam hal ini selain ada barisan jarum sepanjang lembaran prangko, ada juga deretan-derata tegak lurus,sepanjang satu prangko, sehingga deratan jarum menggambarkan sisir. Dengan sekali tekan sederet prangko diberi pergigian pada sisi atas sepanjang lembaranprangko sekaligus sisi kiri/kanan semua prangko deretan itu.Untuk lembaran yang berisi 10 x 20 prangko diperlukan tekanan 11 kali. Pada cara ini, terdapat lubang tepat ditengah-tengah, diantara 4 prangko. Bentuk gigi-ujung rapih dan teratur.
    • Perforasi Blok (block perforation)Dalam hal ini deratan jarum-jarum disusun sekaligus untuk seluruh vel,sehingga untuk satu lembaran pprangko diperlukan 1 kali tekan saja.

    Perforasi selain berbentuk lubang juga dapat berbentuk :

    • Tusuk Jarum (pin perforation); diaman jarum-jarum tidak berlubang dan tidak ada bagian kertas yang terpotong.
    • Tusuk Pisau (roulette) dengan roda atau mistar yang bergigi tajam. Tergantung dari gigi-pisau, tusukan dapat berbentuk garis-garis lurus panjang, tusukan zig-zag, berombak, ujuang panah, gigi tumpul, dan lainnya. Pada roulette, ada yang garis tusuknya berwarna bila dilakukan pada waktu mecetakknya.

    Dalam keadaan darurat prangko pernah diperforasi dengan mesin jahit biasa. Prangko-prangko dari Jaman Revolusi (1945-1949) perforasinya aneka ragam, umumnya kurang sempurna dan banyak yang tidak bergigi sama sekali.

  11. Cetak TindihPrangko yang sudah beredar kemudian diberi tambahan cetakan lagi, disebut cetaktindih. Cetaktindih dilakukan untuk keperluan :
    • Merubah harga nominal; seperti prangko Jaman Revolusi terbitan Sumatra yang harga nominalnya dicetatindih, dan juga prangko pada Desember 1965 dicetak tindih dari “sen” ke “Rupiah” sebagai peralihan mata uang Indonesia.
    • Khusus digunakan pada daerah tertentu; Riau (1954-1960) dan Irian Barat (1963-1970) yang memakai mata uanag Str.$ dan Gulden.
    • Keperluan khusus dimana tidak sempat diterbitkan prangkonya; Seri Bencana Alam 1953 dan 1961, cetak tindih “Pos Udara” pada prangko Sumatra, dan cetak tindih “Resmi” pada seri Cetakan Wina
    • Merubah nama negara; Cetak tindih “Jepang” pada prangko Hindia-Belanda (1942), cetaktindih “R.I.”, “N.R.I.”, “Rep. Indonesia”, “Republik Indonesia” pada Prangko Hindia-Belanda, prangko belanda yang sudah dicetaktindih jepang, dan prangko terbitan jepang (1945). Selain itu oleh Belandaa, nama “Nederlands Indie” diganti resmi menjadi “Indonesia” pada tahun 1948.
    • Sebagai peringatan; Prangko Cetakan Wina dicetaktindih “Merdeka Djokjakarta 6 Djuli 1949” dan “Republik Indonesia Serikat 27 Des. 1949”.
    • Di Irian Jaya, prangko “Nedrl. Niew Guinea” selama pemerintahan peralihan oleh PBB dibubuhi cetaktindih UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) yang berlaku mulai Oktober 1962 – Maret 1963. Cetaktindih tersebut dilakukan di Holandia (Jayapura) dan kemudian di Haarlem (Nederland).

    Dalam cetaktindih dikenal 2 istilah :

    • Surcharge, yaitu apabila cetaktindih yang dibubuhi akan berakibat perubahan harga pada prangko aslinya
    • Overprint, yaitu cetaktindih yang tidak ada kaitannya dengan perubahan harga prangko aslinya.

Sumber referensi :
“Mengenal Dunia Filateli” edisi 1996 disusun oleh H. Soerjono, Bc.A.P.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/11/2011 by in Filateli.
%d bloggers like this: